Langsung ke konten utama

Kyai Parak Bambu Runcing dalam Memori Nyai Hj. Fatimah Tempel Sleman Yogyakarta Oleh: Syukur Widodo, S.Pd.I

 Kyai Subchi Parak Bambu Runcing dalam Memori Nyai Hj. Fatimah Tempel Sleman Yogyakarta Oleh: Syukur Widodo, S.Pd.I

dok. pondoklentera.com


Kyai Subchi Parak Bambu Runcing

dalam Memori Nyai Hj. Fatimah Tempel Sleman Yogyakarta

Oleh: Syukur Widodo, S.Pd.I

 

Al Kisah. Pada suatu malam yang pekat, kabut menyelimuti, dingin menusuk kalbu, angin semilir memporak porandakan kenyamanan. Namun, tidak menghalangi orang - orang dari segala penjuru. Ada yang naik kerata api, ada yang jalan kaki menyusuri gunung, ada yang jalan kaki menerjang hutan. Tiada rasa takut, tiada gentar, keluarga pun di tinggalkan, ketika panggilan Jihad Fisabilillah yang di Gaungkan KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng.

 

Ribuan orang, berbondong - bondong satu tujuan datang ke bumi Tembakau Parakan Temanggung. Memang ini terasa konyol, halu level dewa, tidak masuk akal jauh dari rasionalitas. Ribuan orang yang datang ke Parakan hanya membawa sebatang tongkat bambu. Entah apapun jenis bambu itu; bambu kuning kek, bambu apus kek, bambu wulung kek.

 

Ribuan orang yang datang ke Parakan hanya bermodal keyakinan dan kemantapan kepada sosok do'a Kyai Subchi (Kyai Parak Bambu Runcing). Pun, Kyai Wahid Hasyim di dampingi Kyai Saifudin Zuhri bersama rombongan turut sowan Kyai Subchi (Kyai Parak Bambu Runcing).

 

Mendekati kota Parakan sudah terdengar sayup - sayup orang menggemakan dzikir: Ya Hafidz... Ya Nashir...Ya Wakil...Ya Allah tiada henti- hentinya, semakin keras dan riuh gaduh lantunan Ya Hafidz Ya Nashir Ya Wakil Ya Allah, hingga Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Saifudin Zuhri beserta rombongan sampai di halaman ndalem Kyai Parak Bambu Runcing.

 

Kyai Wahid Hasyim dan Kyai Saifudin Zuhri beserta rombongan semua sungkem kepada Kyai Subchi (Kyai Parak Bambu Runcing), sebagai wujud keta'dhiman. Selanjutnya Kyai Subchi justru menangis sesenggukan, air matanya tak kunjung reda mengalir. Dengan terbata - bata dan serak - serak basah Kyai Subchi berujar "udu ngene Gusti...aku ora ngarep - ngarep mengharap menjadi terkenal dan keramat, saya malu ya Allah, suasana hening senyak bak kuburannya makbaroh Kyai Subchi sekarang.

 

Pasukan telah siap, malam itu semua pasukan dengan bambu yang telah di asma diberi do'a Ya Hafidz Ya Nashir Ya Wakil Ya Allah, sedang santuy membayangkan kematian, darah, bidadari keluarga dan surga tak karuan rasanya. Tiba - tiba, semua orang merasakan pusing, demam, muntah - muntah. Akhirnya ada yang memberanikan diri menyampaikan kondisi pasukan yang awalnya bagas waras sehat wal 'afiyah, tiba - tiba sakit demam semua kepada Kyai Subchi (Kyai Parak Bambu Runcing). Kyai Subchi keluar seraya mengajak kepada semua orang dan pasukan yang siap bertempur namun tiba- tiba sakit demam dengan membaca "bismillahi bi 'aunillah" sebanyak- banyaknya.

 

Kapan Mbah Nyai Hj. Fatimah jalan - jalan lagi berhias berselimut kabut putih ?! Wkwkwk

Diceritakan oleh Nyai Hj. Fatimah Tempel Sleman Yogyakarta.

Gaya Bahasa dan Instusi oleh Syukur Widodo, S.Pd.I


PondokLentera

Hukum Memasak dan Mencuci bagi Istri - PondokLentera

Arti Syukur, Makna Syukur dan Cakupannya Syukur - pondoklentera

Kenaikan BBM Perjudian Jokowi oleh Syukur Widodo _ PondokLentera

Perintah Menuntut Ilmu dan Keutamaan Ilmu dalam Islam _ PondokLentera

Khutbah Jum'at Bahasa Jawa Njagi Kerukunan Masyarakat Oleh Syukur Widodo

Peran NU Ranting Desa Kalimeneng dalam Mengajarkan Ilmu Agama - pondoklentera

Khutbah Jum'at Singkat Bahasa Jawa Tentang Puasa Ramadhan _ pondokLentera