Makam Petilasan Cengkirlegi Kalimeneng Kemiri Purworejo dan Sepak Terjang Sunan Geseng Oleh: Syukur Widodo, S.Pd.I
Makam Petilasan Cengkirlegi Kalimeneng Kemiri Purworejo dan Sepak Terjang Sunan Geseng Oleh: Syukur Widodo, S.Pd.I
SKI Sejarah Kebudayaan Islam
Makam Petilasan Cengkirlegi Kalimeneng Kemiri Purworejo
dan Sepak Terjang Sunan Geseng
Oleh: Syukur Widodo, S.Pd.I
Pada Dusun Cengkirlegi Desa Kalimeneng Kec. Kemiri Kab. Purworejo,
ada sebuah makam atau petilasan yang sampai saat ini belum diketahui secara
pasti. Namun masyarakat Desa Kalimeneng dan khususnya warga dusun Cengkirlegi
tetap merawat dan menziarohi makam tersebut. Dari mulut ke mulut sanadnya makam
itu disebut sebagai seorang ningrat dari Ngayogyokarto dengan sebutan Raden
Nganten Dewi Sri Sosokusumo.
Berdasar pada diskusi dan penelusuran makam oleh Gus Iwan Semawung
Kembaran Kutoarjo. Berdasar penglihatan dan analisis secara metafisika yang
bersemayam di makam tersebut adalah Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat, dengan
salah satu senjata atau pegangan orang yang bersemayam pada makam tersebut
memiliki Keris Kinanti Sosokumo.
Selanjutnya
saya mengejar ciri khas keris kinanti sosokusumo; ciri khasnya bagaimana?
Adapun ciri khas keris kinanti sosokusumo adalah panjang, luk 13. Kemudian saya
sodorkan gambar foto keris dengan memberi tanda pada foto ujung paling kanan
sebagai keris kinanti sosokusumo.
Padahal Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat, dalam literatur
literatur yang telah banyak beredar terkenal sebagai Sunan Geseng Murid Sunan
Kalijaga. Pun begitu makam Sunan Geseng terkenal banyak ada di mana mana. Selanjutnya
ko di era digital 12 Juni 2026 akhir Dzulhijjah 1447 menjelang tahun baru
hijjriyah 1448 H, makam atau petilasan di Dusun Cengkirlegi Desa Kalimeneng
Kec. Kemiri Kab. Purworejo di klaim sebagai makam Raden Cokro Joyo Kusumo
Hadiningrat alias Sunan Geseng Murid Sunan Kalijaga.
Adanya penglihatan secara metafisika bahwa Raden Cokro Joyo Kusumo
Hadiningrat di Cengkirlegi Kalimeneng memiliki keris kinanti sosokusumo, dan
benar keris itu masih ada sampai dengan saat ini, maka keris tersebut menjadi
situs bersejarah dan petunjuk serta sebagai penguat data dukung bahwa Raden
Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat atau Sunan Geseng pernah bertempat tinggal di
Desa Kalimeneng Kec Kemiri. Begitu juga tidak menutup kemungkinan bahwa makam
tersebut adalah Makam Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat alias Sunan Geseng
Murid Sunan Kalijaga.
Pada peninggalan lain, yaitu berwujud Keris selain keris Kinanti
Sosokusumo, juga ada keris motif Bali Gagang/Pegangan lancip berukir yang
terkenal sebagai Keris Perang. Hal ini bisa menjadi alamat/ tanda / indikasi
bahwa Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat adalah seorang pemimpin perang. Temtu
karena pada masa itu adalah tentang dakwah dan menyebarkan Agama Islam, maka
Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat berkelana dari satu wilayah kewilayah lain
untuk menyiarkan, mengecek perkembangan Islam berdiplomasi dengan masyarakat
dan kultur jawa. Maka tak luput Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat memiliki
senjata keris perang sesuai masa dan zamannya.
Karena Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat sebagai salah satu
pemimpin dakwah, penyiaran agama Islam dengan realita era Sunan Kalijaga
Penganut Hindu, Budha, Aliran Kepercayaan masih lekat di bumi jawa. Maka sebuah
keniscayaan dipastikan Raden Cokro Joyo Kusumo Hadiningrat banyak musuh, di
kejar musuh.
Banyaknya makam Sunan Geseng alias Raden Cokro Joyo Kusumo
Hadiningrat menunjukkan luasnya pengaruh, jangkauan, sepak terjang, betapa jauh
dan banyak jejak serta perjalanan wilayah yang dilewati di tinggali Raden Cokro
Joyo Kusumo Hadiningrat alias Sunan Geseng.
Selanjutnya pada komplek makam di atas, pada saat penggalian pemakaman warga di Dusun Cengkirlegi Desa Kalimeneng Kec Kemiri sekira tahun 2020 M. Telah di temukan sejumlah uang Logam VOC Tahun 1790 M, kisaran kelahiran Tuan Guru Loning (sebagai penanda tokoh di Wilayah Kecamatan Kemiri yang telah dikenal luas secara umum) dan sejumlah uang logam Neder Hindie (Hindia Belanda) tahun 1825 masa Perang Pangeran Diponegoro. Begitu juga ada sejumlah uang logam dengan tahun 1837 dan 1839 kisaran meninggalnya Mbah Alim Basaiban Al Idrisi Desa Bulus Kec. Gebang Pendiri Pondok dan Bulus Kab. Purworejo. Beliau adalah Tokoh Agama (Mursyid Thoriqoh Sathoriyah) dan Perjuangan yang melewati dan ikut berpartisi aktif dalam melatih pasukan yang ikut terjun dalam Perang Jawa 2 kali; yaitu masa Sultan Agung (1613 M sd 1645 M) Kesultanan Mataram menyerang Batavia dan Era Perang Pangeran Diponegoro 1825 M sd 1830 M.
Adapun Mbah Alim Basaiban senantiasa di damping Tuan Guru Loning
(baca; ketika Perang Diponegoro), pada tahap awal menggunakan strategi
konfrontrasi langsung dengan Belanda. Namun, pada ahirnya pada akhir Perang
Diponegoro Mbah Alim Basaiban dan Tuan Guru Loning, setelah kemenangan-
kemenangan gemilang Perang Diponegoro, merubah strategi perangnya, disebabkan:
1.
Adanya adu domba antara Mataram
Kartosuro dan Mataram Nyayogyokarto pasca perjanjian Giyanti tahun 1755 M.
2.
Banyaknya tokoh – tokoh utama yang
meninggal, dan pada akhirnya yang meninggal Adalah saudara sendiri. Ujung –
ujungnya Perang Diponegoro adalah Perang Saudara.
3.
Salah satu diplomasi dan negosiasi dengan
menyerahnya Pangeran Diponegoro di Magelang adalah adanya Masjid pada komplek
Pemerintah Hindia Belanda, dan dilengkapi Penghulu Landrat sebagai pencatatan
nikah yang di akui Pemerintah Hindia Belanda.
4.
Mbah Alim Basaiban di damping Tuan
Guru Loning melakukan negosiasi dan remisi keringanan bagi warga pribumi yang
akan dihukum mati oleh Pemerintah Hindia Belanda.
5.
Kemudia adanya ikhtiyar melakukan
persaudaraan dengan perkawinan yang awalnya di kotak- kotak dalam kubu Mataram
Kartosuro dan Mataram Ngayogyokarto.
Berdasarkan uraian diatas dapat digambarkan uang Koin/ Logam ini;
terpendam dan di temukan ketika menggali pemakaman warga: kisaran 1840 M s/d
2020 M (180 Th). Terpendamnya uang koin/ logam ini karena; pertama, uang logam
sengaja di pendam. Kedua, orang bersembunyi dari kejaran Belanda kemudian
meninggalkan uang koin. Ketiga, orang
dimakamkan beserta uang koin. Keempat,
atau di tahun itu akhir kehidupan Mbah Alim Basaiban menunaikan Topo Pendem,
yang nungguhi ngecek Masih Hidup atau tidak dengan seutas benang,
tarik²an benang antara penunggu galian dan Mbah Alim Basaiban. Dalam tapa
pendem inilah Mbah Alim Basaiban mendapat Isyaroh di mana beliau dan
dzurriyahnya memilih menjadi orang Sholeh bukan harta dan tahta. Maka hal ini
bisa menjadi salah satu indikasi murid- murid Mbah Alim Basaiban atau
dzurriyahnya menggunakan nama Sholeh, ada: Sholeh Darat Semarang, Sholeh Qulhu
Payaman dan nama- nama Sholeh yang se zaman dengan Mbah Sholeh Darat.
Walahu
A'lam bi Showab.
